Minggu, 27 April 2014

PERAN SEORANG WANITA MUSLIMAH

Oleh; erna yuliana
Wanita dijajah pria sejak dulu”, begitu salah satu bait syair lagu yang popular di Indonesia. Syair ini menyadarkan kita bahwa eksploitasi wanita telah berjalan sistematis dari masa ke masa. Uniknya eksploitasi ini muncul dalam beragam bentuk yang terkadang tidak disadari oleh wanita itu sendiri. Jika, wanita masa Ibu Kartini, dipaksa menjual harga dirinya kepada Belanda, wanita kini dengan rela menjual segalanya demi uang sekian juta. Jika, Ibu Kartini di zaman Belanda berusaha menyadarkan wanita dari kebodohan dan penjajahan, maka ‘Kartini’ sekarang mesti menyadarkan wanita bahwa dirinya lebih mulia daripada uang sekian juta.
Jika dahulu kala, wanita disimpan sebagai untuk memuaskan pria, kini ia dipajang dalam iklan untuk memuluskan komoditas yang dipasarkan, bahkan tak jarang wanita itu sendiri telah menjadi komoditas yang diperdagangkan, khususnya wanita. Istilah ‘menarik’, ‘cantik’, ‘anak gaul’, ‘gengsi’, ‘gokil’, dan seabrek lainnya, menjadi trend perkembangan zaman dan pergaulan, sehingga, kita seolah terasing jika tidak ikut dalam arus itu. Hasilnya, jiwa materialisme, konsumerisme, dan hedonisme menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.
Untuk menghapus semua kesan hina ini, memancarlah semangat mendunia yang menghembuskan isu kesetaraan gender atau emansipasi. Suara-suara yang saling sambung antar generasi ke generasi memberikan andil bagi pembentukan opini dunia terhadap peran dan kedudukan wanita dalam seluruh struktur kehidupan manusia, baik agama, budaya, sosial, ekonomi, maupun politik.oleh karena itu saatnya Memaksimalkan Potensi Muslimah memiliki sifat lemah lembut namun itu tidak berarti sebagai makhluk yang lemah, di balik kelembutannya tersimpan kekuatan dan potensi terpendam yang belum dimaksimalkan. Muslimah, bukanlah makhluk lemah yang tidak mampu berbuat apapun. Tak layak pula ia dimasukkan ke golongan kelas bawah yang bisa diperlakukan semena-mena. Lebih dari itu, ia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT dengan keistimewaan dan karakteristik tersendiri, yang dipandang sejajar dengan kaum Adam oleh Allah SWT. Maka simaklah janji-Nya, ”Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl :97).
     Dikaitkan dengan kondisi sekarang ini, potensi muslimah untuk mengambil peranan di masyarakat sangat besar. Sudah saatnya muslimah untuk bangkit dan proaktif mengambil peranan di masyarakat. Menjadi muslimah sholihah yang produktif yang memberikan manfaat bagi lingkungan. Setiap muslimah tentunya memiliki potensinya masing-masing yang dapat ditularkan kepada masyarakat sekitar tanpa melihat status sosial ataupun profesinya.
Muslimah dengan potensi yang tersimpan dapat membangun masyarakat menuju perubahan. Melalui peran-peran yang produktif dapat memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat. Banyak cara yang dapat dilakukan muslimah untuk menggali potensi. Pertama, kenali diri dengan mengetahui kelebihan dan potensi yang dimiliki. Dengan demikian muslimah dapat memaksimalkan kelebihan yang dipunyai sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Kedua, bersegeralah untuk proaktif. Proaktif dalam diri setiap orang haruslah selalu ada. Muslimah harus peduli dengan kondisi lingkungannya. Dengan proaktif terhadap lingkungan, muslimah dapat mengadakan perubahan bagi masyarakat. Proaktif berarti memberikan kontribusi nyata dengan karya nyata kepada lingkungan.
Akhirnya, apalagi yang kita tunggu wahai muslimah? Ladang pahala ada di depan mata.

Beda.zaman.beda.peran
   Muslimah di setiap zaman memiliki kekhasannya masing-masing. Semakin lama peran muslimah semakin mengalami peningkatan yang signifikan. Muslimah saat zaman Siti Khadijah, ataupun zaman R.A Kartini tentunya berbeda dengan zaman sekarang. Dahulu ketika zaman penjajahan Belanda dan Jepang peran muslimah terasa terbelenggu. Hal tersebut dikarenakan kondisi dan budaya saat itu yang tidak memperkenankan muslimah untuk berada di luar rumah. Muslimah haruslah tetap berada di rumah untuk mengurus keluarga dan anak-anak. Ia tidak diperbolehkan beraktivitas di luar rumah. Hingga akhirnya pelopor wanita Indonesia Raden Ajeng Kartini yang mengusung emansipasi wanita, penyerataan peran wanita di segala sektor kehidupan. Sejak itulah peran wanita di sektor publik mulai  mendapatperhatian.
Muslimah tidak diidentikkan dengan pekerjaan rumah tangga. Mereka dapat mengaktualisasikan dirinya dengan kegiatan di luar rumah. Meskipun muslimah memiliki peranan yang berbeda-beda dalam masyarakat, akhirnya semuanya itu bermuara pada satu titik yaitu sebagai pendidik bagi generasi unggul dan muslimah pula yang berperan penting membimbing anak-anaknya menjadi generasi rabbani, yaitu generasi yang beriman, mencintai Allah, mengasihi sesama muslim.
   Di zaman Rasulullah kita mengenal Ummu Abdi binti Wadud, ibunda Abdullah ibnu Mas’ud, salah satu sahabat Rasulullah SAW. Di mata Abdullah, sang ibu bukan sekadar orang yang menunggunya pulang ke rumah, tapi juga sebagai teman diskusi sekaligus penasehat. Tak heran jika Abdullah kemudian tumbuh menjadi pemuda cerdas dan berperan sebagai salah satu ujung tombak Islam pada masanya. Ada pula Al Khansa, ibu empat orang syahid. Ia adalah seorang wanita tangguh yang senantiasa menularkan semangat jihad kepada putra-putranya sehingga mereka menjadi pejuang yang pantang menyerah dan rela mengorbankan jiwa raganya untuk kejayaan dan kemenangan Islam. Selain menjadi ibu rumah tangga, pilihan yang dapat dipilih adalah menjadi wanita karier bekerja di luar rumah. Namun, perlu diingat dalam Islam tanggung jawab mencari nafkah tidaklah dibebankan kepada istri, melainkan menjadi kewajiban suami dan bila istri ikut membantu dalam mencari nafkah maka hal itu menjadi pahala sedekah bagi seorang istri. Meskipun sebagai wanita karier yang bekerja di luar rumah, pada saat berada di rumah ia harus berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Muslimah harus seimbang dalam berperan di ranah domestik (rumah tangga) maupun ranah publik (masyarakat)..

Jadikan diri kita sebagai muslimah dambaan umat. Insya Allah, suatu saat nanti pintu surga akan selalu terbuka lebar untuk kita. Amiin.
Jadilah wanita muslimah yang tinggi kedudukannya, jauh dari semua urusan yang rendah, dan terpelihara dari segala sesuatu yang memperdaya rasa malu. Bicara adalah berdzikir; penalaran adalah pelajaran; dan diam adalah berpikir‼!


0 komentar:

Posting Komentar

mohon tinggalkan kritik dan saran.. tq ^^