Oleh; erna yuliana
“Wanita dijajah pria sejak dulu”, begitu salah satu bait
syair lagu yang popular di Indonesia. Syair ini menyadarkan kita bahwa
eksploitasi wanita telah berjalan sistematis dari masa ke masa. Uniknya
eksploitasi ini muncul dalam beragam bentuk yang terkadang tidak disadari oleh
wanita itu sendiri. Jika, wanita masa Ibu Kartini, dipaksa menjual harga
dirinya kepada Belanda, wanita kini dengan rela menjual segalanya demi uang
sekian juta. Jika, Ibu Kartini di zaman Belanda berusaha menyadarkan wanita
dari kebodohan dan penjajahan, maka ‘Kartini’ sekarang mesti menyadarkan wanita
bahwa dirinya lebih mulia daripada uang sekian juta.
Jika dahulu kala, wanita disimpan sebagai untuk memuaskan pria,
kini ia dipajang dalam iklan untuk memuluskan komoditas yang dipasarkan, bahkan
tak jarang wanita itu sendiri telah menjadi komoditas yang diperdagangkan,
khususnya wanita. Istilah ‘menarik’, ‘cantik’, ‘anak gaul’, ‘gengsi’, ‘gokil’,
dan seabrek lainnya, menjadi trend perkembangan zaman dan pergaulan, sehingga,
kita seolah terasing jika tidak ikut dalam arus itu. Hasilnya, jiwa
materialisme, konsumerisme, dan hedonisme menjadi kebiasaan yang sulit untuk
ditinggalkan.
Untuk menghapus semua kesan hina ini, memancarlah semangat
mendunia yang menghembuskan isu kesetaraan gender atau emansipasi. Suara-suara
yang saling sambung antar generasi ke generasi memberikan andil bagi
pembentukan opini dunia terhadap peran dan kedudukan wanita dalam seluruh
struktur kehidupan manusia, baik agama, budaya, sosial, ekonomi, maupun
politik.oleh karena itu saatnya Memaksimalkan Potensi Muslimah memiliki
sifat lemah lembut namun itu tidak berarti sebagai makhluk yang lemah, di balik
kelembutannya tersimpan kekuatan dan potensi terpendam yang belum
dimaksimalkan. Muslimah, bukanlah makhluk lemah yang tidak mampu berbuat
apapun. Tak layak pula ia dimasukkan ke golongan kelas bawah yang bisa
diperlakukan semena-mena. Lebih dari itu, ia adalah makhluk yang diciptakan
Allah SWT dengan keistimewaan dan karakteristik tersendiri, yang dipandang
sejajar dengan kaum Adam oleh Allah SWT. Maka simaklah janji-Nya, ”Barang
siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang
lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl :97).
Dikaitkan dengan kondisi sekarang ini,
potensi muslimah untuk mengambil peranan di masyarakat sangat besar. Sudah
saatnya muslimah untuk bangkit dan proaktif mengambil peranan di masyarakat.
Menjadi muslimah sholihah yang produktif yang memberikan manfaat bagi
lingkungan. Setiap muslimah tentunya memiliki potensinya masing-masing yang dapat
ditularkan kepada masyarakat sekitar tanpa melihat status sosial ataupun
profesinya.
Muslimah dengan potensi yang tersimpan dapat membangun masyarakat menuju perubahan. Melalui peran-peran yang produktif dapat memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat. Banyak cara yang dapat dilakukan muslimah untuk menggali potensi. Pertama, kenali diri dengan mengetahui kelebihan dan potensi yang dimiliki. Dengan demikian muslimah dapat memaksimalkan kelebihan yang dipunyai sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Kedua, bersegeralah untuk proaktif. Proaktif dalam diri setiap orang haruslah selalu ada. Muslimah harus peduli dengan kondisi lingkungannya. Dengan proaktif terhadap lingkungan, muslimah dapat mengadakan perubahan bagi masyarakat. Proaktif berarti memberikan kontribusi nyata dengan karya nyata kepada lingkungan.
Akhirnya, apalagi yang kita tunggu wahai muslimah? Ladang pahala ada di depan mata.
Muslimah dengan potensi yang tersimpan dapat membangun masyarakat menuju perubahan. Melalui peran-peran yang produktif dapat memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat. Banyak cara yang dapat dilakukan muslimah untuk menggali potensi. Pertama, kenali diri dengan mengetahui kelebihan dan potensi yang dimiliki. Dengan demikian muslimah dapat memaksimalkan kelebihan yang dipunyai sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Kedua, bersegeralah untuk proaktif. Proaktif dalam diri setiap orang haruslah selalu ada. Muslimah harus peduli dengan kondisi lingkungannya. Dengan proaktif terhadap lingkungan, muslimah dapat mengadakan perubahan bagi masyarakat. Proaktif berarti memberikan kontribusi nyata dengan karya nyata kepada lingkungan.
Akhirnya, apalagi yang kita tunggu wahai muslimah? Ladang pahala ada di depan mata.
Beda.zaman.beda.peran
Muslimah di setiap zaman memiliki kekhasannya masing-masing. Semakin lama peran muslimah semakin mengalami peningkatan yang signifikan. Muslimah saat zaman Siti Khadijah, ataupun zaman R.A Kartini tentunya berbeda dengan zaman sekarang. Dahulu ketika zaman penjajahan Belanda dan Jepang peran muslimah terasa terbelenggu. Hal tersebut dikarenakan kondisi dan budaya saat itu yang tidak memperkenankan muslimah untuk berada di luar rumah. Muslimah haruslah tetap berada di rumah untuk mengurus keluarga dan anak-anak. Ia tidak diperbolehkan beraktivitas di luar rumah. Hingga akhirnya pelopor wanita Indonesia Raden Ajeng Kartini yang mengusung emansipasi wanita, penyerataan peran wanita di segala sektor kehidupan. Sejak itulah peran wanita di sektor publik mulai mendapatperhatian.
Muslimah tidak diidentikkan dengan pekerjaan rumah tangga. Mereka dapat mengaktualisasikan dirinya dengan kegiatan di luar rumah. Meskipun muslimah memiliki peranan yang berbeda-beda dalam masyarakat, akhirnya semuanya itu bermuara pada satu titik yaitu sebagai pendidik bagi generasi unggul dan muslimah pula yang berperan penting membimbing anak-anaknya menjadi generasi rabbani, yaitu generasi yang beriman, mencintai Allah, mengasihi sesama muslim.
Muslimah di setiap zaman memiliki kekhasannya masing-masing. Semakin lama peran muslimah semakin mengalami peningkatan yang signifikan. Muslimah saat zaman Siti Khadijah, ataupun zaman R.A Kartini tentunya berbeda dengan zaman sekarang. Dahulu ketika zaman penjajahan Belanda dan Jepang peran muslimah terasa terbelenggu. Hal tersebut dikarenakan kondisi dan budaya saat itu yang tidak memperkenankan muslimah untuk berada di luar rumah. Muslimah haruslah tetap berada di rumah untuk mengurus keluarga dan anak-anak. Ia tidak diperbolehkan beraktivitas di luar rumah. Hingga akhirnya pelopor wanita Indonesia Raden Ajeng Kartini yang mengusung emansipasi wanita, penyerataan peran wanita di segala sektor kehidupan. Sejak itulah peran wanita di sektor publik mulai mendapatperhatian.
Muslimah tidak diidentikkan dengan pekerjaan rumah tangga. Mereka dapat mengaktualisasikan dirinya dengan kegiatan di luar rumah. Meskipun muslimah memiliki peranan yang berbeda-beda dalam masyarakat, akhirnya semuanya itu bermuara pada satu titik yaitu sebagai pendidik bagi generasi unggul dan muslimah pula yang berperan penting membimbing anak-anaknya menjadi generasi rabbani, yaitu generasi yang beriman, mencintai Allah, mengasihi sesama muslim.
Di zaman Rasulullah kita mengenal Ummu Abdi binti
Wadud, ibunda Abdullah ibnu Mas’ud, salah satu sahabat Rasulullah SAW. Di mata
Abdullah, sang ibu bukan sekadar orang yang menunggunya pulang ke rumah, tapi
juga sebagai teman diskusi sekaligus penasehat. Tak heran jika Abdullah
kemudian tumbuh menjadi pemuda cerdas dan berperan sebagai salah satu ujung
tombak Islam pada masanya. Ada pula Al Khansa, ibu empat orang syahid. Ia
adalah seorang wanita tangguh yang senantiasa menularkan semangat jihad kepada
putra-putranya sehingga mereka menjadi pejuang yang pantang menyerah dan rela
mengorbankan jiwa raganya untuk kejayaan dan kemenangan Islam. Selain menjadi
ibu rumah tangga, pilihan yang dapat dipilih adalah menjadi wanita karier
bekerja di luar rumah. Namun, perlu diingat dalam Islam tanggung jawab mencari
nafkah tidaklah dibebankan kepada istri, melainkan menjadi kewajiban suami dan
bila istri ikut membantu dalam mencari nafkah maka hal itu menjadi pahala
sedekah bagi seorang istri. Meskipun sebagai wanita karier yang bekerja di luar
rumah, pada saat berada di rumah ia harus berperan sebagai pendidik bagi
anak-anaknya. Muslimah harus seimbang dalam berperan di ranah domestik (rumah
tangga) maupun ranah publik (masyarakat)..
Jadikan diri kita sebagai muslimah dambaan umat. Insya Allah,
suatu saat nanti pintu surga akan selalu terbuka lebar untuk kita. Amiin.
Jadilah wanita muslimah yang tinggi kedudukannya, jauh dari
semua urusan yang rendah, dan terpelihara dari segala sesuatu yang memperdaya
rasa malu. Bicara adalah berdzikir; penalaran adalah pelajaran; dan diam adalah
berpikir‼!






0 komentar:
Posting Komentar
mohon tinggalkan kritik dan saran.. tq ^^