Minggu, 07 Desember 2014

MANHAJ HAROKI: KARAKTERISTIK KELIMA : Peranan Wanita pada Periode Sirri’yah

  •  manhaj haraki
  • KARAKTERISTIK KELIMA : Peranan Wanita pada Periode Sirri’yah 
Seperempat dari masyarakat Islam periode ini terdiri dari kaum wanita. Sebagian besar dari para pemuda yang sudah berkeluarga, istri-istri mereka juga masuk Islam bersamanya. Kaum wanita ini hidup di periode sirriyah tanpa diketahui oleh seorang pun keislaman mereka. Kita harus memberikan perhatian kepada peranan kaum wanita dalam perjalanan da’wah ini sebagaimana mestinya. Baik sebagai saudara, istri, maupun ibu yang mendampingi kaum lelaki. Bahkan, sebagian riwayat menyebutkan bahwa Asma’ ra. adalah seorang prajurit periode ini. Ini berarti bahwa dia dalam usianya yang sangat muda.

  • KARAKTERISTIK KEENAM : S h a l a t 
Menurut riwayat yang paling kuat, tidak ada satu pun periode da’wah kaum muslimin yang sunyi dari pelaksanaan shalat. Berkata Ibnu Ishaq,
“Sebagian ahli ilmu menceritakan kepadaku bahwa sewaktu shalat diwajibkan atas Rasulullah saw.. Jibril datang kepadanya sedang beliau berada di atas bukit Mekah. Kemudian mengisyaratkan kepadanya ke arah lembah. Maka terbelahlah sebuah mata air darinya. Kemudian Jibril mengajarkan cara berwudhu kepada Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw. ikut berwudhu sebagaimana Jibril. Kemudian Jibril berdiri dan shalat mengimami Rasulullah saw. dan Rasulullah saw. pun mengikuti shalatnya. Kemudian Jibril pergi meninggalkannya. Lalu Rasulullah datang kepada Khadijah memperagakan cara wudhu untuk shalat sebagaimana diperlihatkan oleh Jibril kepadanya. Maka, Khadijah berwudhu sebagaimana Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. mengimaminya sebagaimana Jibril telah mengimaminya. “
  • KARAKTERISTIK KETUJUH : Pengetahuan Orang Quraisy tentang Da’wah
Quraisy belum memberikan perhatian khusus terhadap da’wah ini, karena fenomena kehanifan sudah sejak lama tersebar di masyarakat Mekkah. Seperti yang tercermin pada Zaid bin Amer bin Naufal, Waraqah bin Naufal, dan Umaiyah bin Abu Shalt.
Mekah tidak begitu memperdulikan peristiwa-peristiwa dan orang-orang seperti mereka ini, selama mereka tidak mengganggu ideologi dan berhala-berhala yang disembah. Rasulullah saw. sendiri sebelum kenabian melakukan “penyucian diri” di Gua Hira’. Sekali- pun demikian, Quraisy tidak keberatan terhadapnya. Quraisy mengira bahwa Islam tidak berbeda dengan orang-orang hanif yang menghindarkan diri dari menyembah berhala. Bahkan boleh dikatakan, pada periode sirriyah ini Quraisy lebih banyak memperhatikan orang- orang hanif daripada kaum muslimin. Hal ini disebabkan orang-orang hanif itu pernah mengatakan keraguan mereka terhadap berhala-berhala kaum Quraisy dan sesembahan orang-orang Arab, sementara kaum muslimin belum pernah menyatakan sikap terhadap mereka.
  • KARAKTERISTIK KEDELAPAN : Hidup Berdampingan antara Kaum Muslimin dan Orang Lain
Pada periode ini kita tidak pernah mendengar adanya perbenturan antara masyarakat Islam yang sedang tumbuh dengan masyarakat jahiliyah. Karena fikrah belum diumumkan selain kepada orang yang diharapkan mau bergabung dengan masyarakat Islam yang ada. Da’wah terbuka bukan merupakan sasaran periode ini. Sehingga, kaum muslimin belum boleh mencampuri urusan orang lain dengan mengkritik, berkonfrontasi, atau menantang secara terang-terangan. Prinsip yang harus dianut pada periode ini ialah tidak boleh menampakkan ketidaksetujuan, kecuali bila dalam keadaan terpaksa sekali. Tanzhim dan fikrah masih harus dirahasiakan sepenuhnya.
  • KARAKTERISTIK KESEMBILAN : Memfokuskan pada Pembinaan Aqidah 
Ideologi kaum kafir dan thaghut telah mendominasi kehidupan manusia, karena itu perbaikan dan pembinaan aqidah yang benar harus dilakukan secara tenang. Hanya aqidah yang benar yang mampu memancarkan ibadah dan perilaku yang benar. Pada saat yang sama, aqidahlah yang akan memberikan keteguhan jiwa di atas kebenaran dan pengorbanan di jalannya. Segala bentuk keraguan, ketidakpastian, nifaq, dan penyimpangan dari jalan yang benar, terjadi karena lemahnya aqidah di dalam hati setiap muslim.
Karena sesuatu hal, Islam memilih kata iman untuk menunjukkan aqidah. Sebab iman menyentuh akal dan hati sekaligus, serta mema- dukan antara pikir dan aspek kejiwaan. Aqidah bukan masalah kepuasan intelektual yang dingin, juga bukan masalah dorongan sentimental yang tidak berlandaskan kepuasan intelektual. Tetapi, merupakan perpaduan yang utuh antara dua aspek tersebut, sehingga sulit untuk membedakan antara keduanya.
  • KARAKTERISTIK KESEPULUH : Berda’wah secara Terang-terangan Setelah Terbentuk  Kader-Kader Inti yang Kuat 
Bukti dari bentuk da’wah ini ialah tidak adanya seorang pun di antara para sahabat yang murtad pada waktu terjadi tribulasi dan dimulai konfrontasi. Bahkan, mereka yang telah hidup di periode awal da’wah ini di kemudian hari menjadi generasi Islam terbaik di segi kualitas keimanan, perilaku, jihad, dan pengorbanan. Bahkan, kalau kita perhatikan tingkatan teratas di dalam umat Islam, yaitu tingkatan sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga adalah dari kelompok mereka, kecuali Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
Kelompok inilah yang membentuk generasi pemimpin (jiil al-qiyadah) bagi masyarakat yang terbina. Khalifah yang terpilih dan telah disetujui oleh Rasulullah saw. pun dari kelompok ini. Inilah kader-kader inti (nuwat) yang di kemudian hari memikul beban da’wah Islam di muka bumi. Merekalah yang telah berhasil memikul tanggung jawab melakukan konfrontasi terbesar melawan musuh-musuh Islam.
bersambung…
* Dikutip dari buku “Manhaj Haraki : Startegi Pergerakan dan Perjuangan Politik Dalam Sirah Nabi SAW ” Jilid-1 , Syekh Munir Muhammad al-Ghadban”, Rabbani Pers, 1992.
Catatan :  Kitab ini (Manhaj Haraki : Startegi Pergerakan dan Perjuangan Politik Dalam Sirah Nabi SAW) adalah salah satu karya besar Syaikh Munir Muhammad Ghadban, seorang tokoh pergerakan yang juga dosen di Universitas Ummul Qura’ Saudi Arabia dan Jami’ah Al Iman Yaman. Kitab Manhaj Haraki ini mempertautkan berbagai peristiwa di masa Nabi SAW dengan kejadian mutakhir yang dihadapi oleh gerakan Islam kontemporer. Tahap demi tahap dikupas dengan memikat, lalu diproyeksikan dalam iklim da’wah Islam saat ini.

http://serbasejarah.wordpress.com/2012/12/29/membaca-manhaj-haraki-manhaj-juang-nabi-saw-bagian-1/

0 komentar:

Posting Komentar

mohon tinggalkan kritik dan saran.. tq ^^