Ini merupakan penjelasan lebih lanjut
terhadap sifat-sifat pribadi Abu Bakar yang disebutkan di atas mengingat
dia merupakan da’i yang paling berpengaruh pada waktu itu. Kita dapat
mengenal sifat-sifat pribadi ini melalui unsur-unsur berikut.
- Akhlak. Abu Bakar adalah seorang lelaki yang akrab dengan kaumnya, dicintai, dan disayangi.
- Pengetahuan. Abu Bakar adalah seorang Quraisy yang paling mengerti dan tahu tentang nasab suku bangsa Quraisy serta masalah kebaikan atau keburukan yang ada pada suku ini.
- Pekerjaan dan status sosial. Abu Bakar dikenal sebagai pedagang yang memiliki akhlak mulia. Sering didatangi oleh tokoh-tokoh kaumnya untuk dimintai pendapat mengenai banyak hal.
Akhlak yang baik dan dicintai masyarakat
merupakan “senjata ampuh” untuk menarik orang lain. Akhlak adalah kunci
pembuka katup hati, betapa pun kerasnya. Akhlak jualah yang akan men-
jauhkan seorang da’i dari reaksi pada saat timbul sifat negatif terhadap
da’wah.
Pengetahuan juga tidak kalah penting dari
akhlak. Yang dituntut dalam masalah ini bukan segala macam pengetahuan.
Tetapi pengetahuan mengenai masyarakat dan
kecenderungan-kecenderungannya. Pengetahuan yang menjelaskan tentang
karakteristik jiwa manusia. Pengetahuan inilah yang akan memberikan daya
gerak kepada da’i. Juga merupakan pintu masuk ke dalam hati mad’u.
“Apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad [47]: 24).
Setiap hati memiliki “gembok” pengunci
tersendiri. Tugas seorang da’i ialah berusaha memiliki kunci dari
gembok-gembok tersebut dan mengetahui dari mana ia harus memasukinya,
sampai hati tersebut menyambutnya.
Status sosial seorang da’i menjadikan dia
“didengar” di tengah masyarakatnya sehingga akan meninggikan
derajatnya. Status ini akan membebaskannya dari “meminta-minta” dan
menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Ia juga akan memberikan
prestise di tengah masyarakat yang nilai tertingginya adalah harta dan
popularitas. Rasulullah saw. telah mengarahkan kita kepada hal ini di
dalam salah satu sabdanya :
“Jauhilah dunia, niscaya Allah mencintaimu, dan jauhilah apa yang ada di tangan orang lain, niscaya kamu akan dicintai oleh orang-orang” (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan).
Status sosial secara alami memiliki
hubungan yang erat dengan manusia yang menyebabkannya lebih berpengaruh
terhadap mereka. Sebab, hubungan tersebut tampak lebih wajar dan tidak
dipaksakan, sehingga seorang da’i tidak perlu mencari faktor lain untuk
berhubungan dengan mereka. Seorang guru atau pedagang misalnya, lebih
mampu untuk bergerak daripada seorang pegawai yang terkungkung di dalam
suatu struktur tertentu.






0 komentar:
Posting Komentar
mohon tinggalkan kritik dan saran.. tq ^^