Minggu, 07 Desember 2014

KARAKTERISTIK KETIGA : Berdakwah Melalui Intelektualitas Da’i dan Status Sosialnya

  • manhaj haraki
Ini merupakan penjelasan lebih lanjut terhadap sifat-sifat pribadi Abu Bakar yang disebutkan di atas mengingat dia merupakan da’i yang paling berpengaruh pada waktu itu. Kita dapat mengenal sifat-sifat pribadi ini melalui unsur-unsur berikut.
  1. Akhlak. Abu Bakar adalah seorang lelaki yang akrab dengan kaumnya, dicintai, dan disayangi.
  2. Pengetahuan. Abu Bakar adalah seorang Quraisy yang paling mengerti dan tahu tentang nasab suku bangsa Quraisy serta masalah kebaikan atau keburukan yang ada pada suku ini.
  3. Pekerjaan dan status sosial. Abu Bakar dikenal sebagai pedagang yang memiliki akhlak mulia. Sering didatangi oleh tokoh-tokoh kaumnya untuk dimintai pendapat mengenai banyak hal.
Akhlak yang baik dan dicintai masyarakat merupakan “senjata ampuh” untuk menarik orang lain. Akhlak adalah kunci pembuka katup hati, betapa pun kerasnya. Akhlak jualah yang akan men- jauhkan seorang da’i dari reaksi pada saat timbul sifat negatif terhadap da’wah.
Pengetahuan juga tidak kalah penting dari akhlak. Yang dituntut dalam masalah ini bukan segala macam pengetahuan. Tetapi pengetahuan mengenai masyarakat dan kecenderungan-kecenderungannya. Pengetahuan yang menjelaskan tentang karakteristik jiwa manusia. Pengetahuan inilah yang akan memberikan daya gerak kepada da’i. Juga merupakan pintu masuk ke dalam hati mad’u.
“Apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad [47]: 24).
Setiap hati memiliki “gembok” pengunci tersendiri. Tugas seorang da’i ialah berusaha memiliki kunci dari gembok-gembok tersebut dan mengetahui dari mana ia harus memasukinya, sampai hati tersebut menyambutnya.
Status sosial seorang da’i menjadikan dia “didengar” di tengah masyarakatnya sehingga akan meninggikan derajatnya. Status ini akan membebaskannya dari “meminta-minta” dan menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Ia juga akan memberikan prestise di tengah masyarakat yang nilai tertingginya adalah harta dan popularitas. Rasulullah saw. telah mengarahkan kita kepada hal ini di dalam salah satu sabdanya :
“Jauhilah dunia, niscaya Allah mencintaimu, dan jauhilah apa yang ada di tangan orang lain, niscaya kamu akan dicintai oleh orang-orang” (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan).
Status sosial secara alami memiliki hubungan yang erat dengan manusia yang menyebabkannya lebih berpengaruh terhadap mereka. Sebab, hubungan tersebut tampak lebih wajar dan tidak dipaksakan, sehingga seorang da’i tidak perlu mencari faktor lain untuk berhubungan dengan mereka. Seorang guru atau pedagang misalnya, lebih mampu untuk bergerak daripada seorang pegawai yang terkungkung di dalam suatu struktur tertentu.

0 komentar:

Posting Komentar

mohon tinggalkan kritik dan saran.. tq ^^