
- KARAKTERISTIK PERTAMA : Da’wah Secara Rahasia
Periode ini dimulai dari Gua Hira’ (kenabian) dan berakhir tiga tahun setelah kenabian, ketika turun firman Allah, “Wa andzir ‘asyiratakal aqrabin” (asy-Syu’ara’ [26]: 214) dan firman Allah, “Fashda’ bimaa tu’mar wa ‘aridh ‘anil musyrikin” (al-Hijr [15]: 94).
“Setelah Jibril datang kepada Rasulullah di Gua Hira’ dan membacakan kepadanya: Iqra bismi Rabbikal ladzi khalaq,
Rasulullah saw. pulang ke rumah Khadijah. Beliau tinggal diam selama
masa yang dikehendaki Allah tanpa memperoleh sesuatu pun. Wahyu
terhenti. Rasulullah saw. bersedih karenanya. Berkali-kali ia pergi ke
puncak gunung karena merindukan wahyu Allah turun kepadanya seperti
peristiwa yang pertama. Dikatakan bahwa terhentinya wahyu tersebut
berlangsung selama hampir dua tahun. Pendapat yang lain mengatakan,
selama dua setengah tahun. Menurut tafsir Ibnu Abbas, selama empat puluh
hari. Menurut al-Zujjaj di dalam kitab Ma’ani al-Quran, selama lima belas hari. Menurut tafsir Muqatil, selama tiga hari. Pendapat yang terakhir ini dikuatkan oleh sebagian ulama.
Muqatil berkata, “Mungkin inilah yang
mirip dengan ihwal Rasulullah saw. di sisi Rabbnya, kemudian malaikat
Jibril menampakkan diri kepadanya di antara langit dan bumi di atas
kursi, lalu meneguhkannya dan menyampaikan kabar gembira bahwa ia adalah
utusan Allah. Setelah melihat malaikat tersebut, Rasulullah saw. merasa
takut dan pergi menemui Khadijah radhiyallahu ‘anha. Ia berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Kemudian Allah menurunkan firman-Nya :
“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah” (al-Muddatstsir [74]: 1-4).
Jadi, peristiwa pertama di Gua Hira’
adalah peristiwa kenabian dan pewahyuan, kemudian Allah memerintahkannya
di dalam ayat ini agar bangkit memberi peringatan kepada kaumnya dan
mengajak mereka kepada Allah. Dengan demikian, sebagaimana pendapat
Urwah bin Zubair, Muhammad bin Syihab, dan Muhammad bin Ishaq, rentang
waktu sejak kenabian dan turunnya firman Allah “Fashda’ bima tumar wa a’ridh ‘anil Musyrikin‘ sampai kepada turunnya firman Allah, “Wa andzir ‘asyiratakal aqrabin dan qul inni ana al-nadzir al-mubin adalah tiga tahun.”
Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa
karakteristik pertama bagi fase ini ialah bahwa rentang waktu periode
ini selama tiga tahun, kendati pun kami tidak menjadikan rentang waktu
ini sebagai patokan. Kami tidak berpendapat bahwa gerakan Islam sekarang
harus menempuh tahapan sirriyah selama tiga tahun. Menyangkut
masalah ini, tidak ada nash yang memerintahkan kita agar mengikuti
secara demikian. Tetapi, kami memahami bahwa berakhirnya tahapan ini
(sirriyah) telah terwujudkan, sebab kaum muslimin telah memiliki basis
kuat yang dapat melindungi mereka dari pemusnahan. Ini bila dinilai dari
sisi kualitasnya dan kaitannya dengan masyarakat Mekah pada waktu itu.
Dari aspek inilah kita harus meneladani. Rentang waktu bukan sesuatu
yang penting. Tetapi, yang penting adalah hasil operasional da’wah dan
kemampuannya untuk menghadapi masyarakat yang ada melalui para
pendukung, tokoh-tokoh, dan lembaga-lembaganya.
Pemahaman ini dikuatkan oleh ayat berikut.
“Maka sampaikahlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik” (al-Hijr [15]: 94).
Sebab, langsung setelah ayat ini kita dapati firman Allah :
“Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olok (kamu)” (al-Hijr [15]: 95).
Jadi, penyampaian da’wah terang-terangan
dilakukan setelah adanya jaminan perlindungan Allah kepada Rasul-Nya
dari gangguan orang-orang yang memperolok-olokkan. Jika hal tersebut
diketahui oleh Rasulullah saw. melalui wahyu, pimpinan gerakan Islam
yang terpimpinlah yang bertanggung jawab menilai tahapan ini dan
kemungkinan-kemungkinan untuk beralih kepada tahapan berikutnya.
Pemahaman ini, tidak adanya kaitan
tahapan dengan masa tertentu, juga dikuatkan oleh adanya sebagian kaum
muslimin di luar Mekah yang tetap tinggal secara sirriyah selama masa
yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi mereka di tengah-tengah
kabilahnya serta kemampuan mereka untuk berda’wah dan membina kader.
COPAS FROM: http://serbasejarah.wordpress.com/2012/12/29/membaca-manhaj-haraki-manhaj-juang-nabi-saw-bagian-1/






0 komentar:
Posting Komentar
mohon tinggalkan kritik dan saran.. tq ^^